Friday, 7 July 2017

Persalinan Anak Pertama

Saat kehamilan memasuki usia 40 minggu, saya mulai tak sabar dan sedikit khawatir. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran saya.
Mengapa saya belum merasakan kontraksi ya.. Kok si baby belum mau keluar ya.. Apakah saya bisa melahirkan normal.. dsb dsb..
Akhirnya saya mulai browsing bagaimana memancing kontraksi secara alami. Dari hasil silaturahim ke beberapa web, saya menyimpulkan bahwa cara memancing kontraksi secara alami bisa dengan mengkonsumsi kiwi, banyak jalan, senam prenatal, mengkonsumsi makanan pedas, dll.

Saya mencoba untuk melakukan hal-hal yang disarankan web tersebut. Suami juga menunjukkan supportnya, ia mengantar saya membeli kiwi, menemani saya jalan pagi dan sore, memotivasi saya untuk melakukan senam prenatal, dan mencari info tentang kehamilan post due date.

Saya dan suami memiliki keinginan yang sama yaitu proses lahiran normal. Maka ketika ada seorang dokter yang menyarankan untuk melakukan caesarean section (SC) di minggu ke 40, kami tidak menghiraukannya.

Bukan tanpa alasan kami tetap keukeuh memilih lahiran normal, pasalnya kehamilan saya tidak ada masalah apapun hingga minggu ke 40. Air ketuban masih cukup, posisi plasenta baik, detak jantung janin normal, tekanan darah saya pun masih ok. Jadi kami berpositive thinking. Bismillah, saya bisa melahirkan normal.

Allah Maha Mengetahui, Dia akan memberikan waktu yang tepat. Si jabang bayi pun memiliki waktunya sendiri, ia akan keluar saat ia ready.

Saya menanamkan afirmasi ini ketika perasaan tak sabar dan khawatir menghampiri "Slow down, calm down, don't worry, don't hurry, trust the process".
Meskipun kami memilih untuk menunggu hingga waktunya tiba, kami tidak berhenti untuk ikhtiar memancing kontraksi. Tetap do the best and let Allah do the rest. 

40 minggu 1 hari
Pagi hari suami mengajak ke pasar untuk membeli buah, tentu saja dengan berjalan kaki. Siangnya kami membeli kiwi. Saya mengkonsumsi 2 buah kiwi dalam sehari sebagai upaya untuk memancing gelombang cinta. Sorenya, kami membeli takjil untuk berbuka. Lagi-lagi dengan berjalan kaki. Sepulang dari membeli takjil, saya merasa perut mulai cenat-cenut. Malamnya saya masih bisa shalat tarawih berjamaah di mesjid meski saat shalat gelombang cinta mulai menyapa.

40 minggu 2 hari
Suami mengajak jalan pagi dan sorenya kami berjalan mengelilingi taman kembang sepatu sebanyak lebih dari 10 kali. Pulangnya saya kelelahan sehingga saya absen tarawih di malam hari karena merasa gelombang cinta mulai sedikit maknyuuuus.

Mulai dari jam 11 malam, saya gelisah dan belum bisa tidur. Gelombang cinta datang dan pergi secara teratur dengan rasa sakit yang intens. Saat itu saya masih bisa menahannya, jadi saya hanya berusaha untuk tidur.

40 minggu 3 hari
Puncak gelombang cinta datang jam 3 pagi yang membuat saya menangis. The pain is really unbearable. Saya membangunkan suami, ia akhirnya menelepon ummi dan bidan langganan kami.

Ummi datang ke rumah kami setelah ditelepon suami saya. Ketika ummi tau bahwa saya sudah mengeluarkan lendir bercampur darah, ia menyuruh kami untuk segera ke bidan karena itu adalah tanda bahwa proses lahiran sudah dekat.

Setibanya di bidan, saya langsung melakukan pemeriksaan dalam. Ternyata sudah pembukaan 7. Bidan menyuruh saya berbaring ke kiri sambil menunggu pembukaan bertambah. Suami dan ummi menanyakan kapan proses lahiran bisa dimulai jika sekarang sudah pembukaan 7, kemudian bidan mengatakan bahwa kemungkinan lahiran jam 8 pagi.
Shubuh pun tiba, suami izin untuk shalat di mesjid karena ia pikir masih banyak waktu sebelum proses lahiran.

Jam 5 pagi saya ingin buang air kecil, ketika saya menuju kamar mandi, saya merasa ada letusan dalam perut saya yang disusul keluarnya cairan bening bercampur darah. Ternyata ketuban saya pecah. Saya disuruh berbaring kembali sama bidan dan diambilkan pispot untuk buang air kecil. Entah mengapa keingingan saya untuk buang air kecil hilang, berganti dengan keinginan untuk buang air besar. Keinginan ini sudah tak bisa ditahan, jadi saya langsung mengejan sekuat tenaga di atas ranjang bersalin. Ternyata yang saya rasakan ini bukan keinginan untuk buang air besar, ini adalah dorongan dari dalam yang menandakan bayi sudah ingin keluar.

Bidan segera stand by di depan saya. Saya mengejan lagi. Bidan mengatakan bahwa rambut bayi sudah keliatan, disaat yang sama suami baru tiba di ruang bersalin dari sholat shubuh. Saya masih berusaha mengejan, kali ini luar biasa dahsyat rasanya karena proses pengeluaran kepala bayi. Selanjutnya saya mengejan sambil dibantu bidan yang mendorong perut atas saya. Alhamdulillah, ketika pecah tangisan bayi, saya pun mengetahui bahwa proses lahiran berhasil. Tak berapa lama plasenta keluar. Bidan memberikan bayi saya untuk segera IMD. Masya Allah, that was magical feeling. Seeing and touching your child for the first time after all of the struggle you faced. Can't thank Allah enough.

Proses selanjutnya adalah jahit-menjahit. That was the most painful moment for me. Sakitnya luar biasa. Serius. Bagi saya ini lebih menyakitkan daripada kontraksi dan melahirkan. Bahkan bidan sampai meminta ummi menemani saat proses ini karena saya tak tahan sakitnya. Sekarang saya mengetahui mengapa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Perjuangan demi perjuangan yang ia lewati dari masa hamil, melahirkan, menyusui, bahkan hingga anak-anaknya besar nanti-tidak bisa dianggap remeh. Perjalanan perjuangan seorang ibu layak untuk pahala yang berlimpah dan tentu saja surga.

Semoga Allah selalu merahmati dan menuntun saya menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Tak lupa saya panjatkan syukur sebesar-besarnya atas nikmat Allah yang memberikan saya kemudahan dan kelancaran saat proses persalinan kemarin. Alhamdulillah

No comments:

Post a Comment