Monday, 11 December 2017

Breastfeeding Journey

 Perjalanan menyusui Maiza, buah hati pertama saya tidaklah mulus. Tentu para pejuang ASI paham betul pada apa yang mereka perjuangkan dan apa saja tantangannya. Drama menyusui seperti pelekatan yang tak tepat, mastitis, ASI seret, PD bengkak, nipple lecet, tongue-tie, lip-tie, dan masih banyak lagi episode drama ibu menyusui yang saya alami. Memberikan ASI secara eksklusif bukan semata-mata agar anak sehat atau memiliki berat badan ideal, namun lebih dari itu. Sebagai ummat Muslim yang beriman pada Allah dan Al-Qur'an, saya berusaha untuk menjalankan perintah Allah yang tertulis dalam Q.S.Al Baqarah ayat 233 yang memiliki terjemahan sbb:
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan"
 Alhamdulillah selama 4 bulan pertama saya berhasil memberikan ASI eksklusif pada Maiza. Qodarullah, saya jatuh sakit saat Maiza berusia 4 bulan 2 minggu. Karena sakitnya tak kunjung sembuh, saya dan suami memutuskan untuk ke dokter. Disana saya diberikan obat yang mempengaruhi kegiatan menyusui saya. Dokter menyarankan saya untuk istirahat menyusui dulu selama saya mengkonsumsi obat yang diberikan dokter karena kandungan ASI akan terkontaminasi obat yang saya konsumsi. "Jika ibunya tak kunjung sembuh, maka akan lebih lama lagi ibu tak bisa menyusui" begitu penjelasan dokter. Sejujurnya saya sedih sekali mendengarnya, mengingat saya tak punya stok ASIP (padahal dalam keadaan seperti ini banyaknya ASIP) membantu berlangsungnya proses ASI eksklusif dan saat itu saya pun tak tau harus kemana mencari donor ASI bagi Maiza. Pada akhirnya, dengan berat hati kami memberikan Maiza susu formula sebagai asupannya. 

Dokter sebetulnya sudah mengingatkan agar saya selalu rajin pumping saat mengkonsumsi obat meskipun hasil pumping tetap harus dibuang. Ini dilakukan agar PD saya tetap memproduksi ASI dengan jumlah banyak. Sayangnya saya kurang disiplin sehingga ketika saya telah pulih dan siap menyusui kembali, produksi ASI saya telah menurun. Akibatnya, Maiza selalu rewel dan menangis saat menyusu karena ia masih merasa lapar. Menyesal sekali rasanya karena tidak rutin pumping saat sakit, diperlukan usaha ekstra agar Maiza mau menyusu kembali dan berhenti mengkonsumsi susu formula.


Saya menolak menyerah. Keinginan saya untuk memberikan ASI lagi pada Maiza masih besar. Saya pun melakukan ikhtiar selanjutnya, melakukan pijat laktasi. Tak cuma pijat, pada proses ini saya juga dimotivasi untuk terus optimis bahwa Maiza bisa full ASI lagi tanpa susu formula. Saat ini Maiza tetap mendapatkan ASI namun dibantu juga dengan susu formula karena berat badannya sempat turun saat sakit. Proses mengembalikan Maiza untuk full ASI tanpa bantuan susu formula memang tidak mudah, tugas saya sekarang adalah meningkatkan produksi ASI saya agar tak perlu lagi memberikan asupan lain pada Maiza. Menyusui sesering mungkin, rutin pumping, mengkonsumsi makanan pelancar ASI, dan pijat laktasi masih saya jalani hingga kini demi memberikan yang terbaik pada si buah hati.



Selamat mengASIhi wahai para pejuang ASI.. bagi yang tak bisa memberikan ASI, tak perlu berkecil hati karena sebagai manusia tentu kita memiliki keterbatasan diri.. tetap berikan yang terbaik bagi si buah hati dan yakinlah bahwa kasih sayang Allah selalu menyertai :) 

No comments:

Post a Comment

IMPETIGO BULOSA

Di satu pagi pada bulan Februari, saya menemukan lingkaran merah pada kulit telinga Maiza. Awalnya saya tak risau, karena saya pikir itu ha...