Saturday, 25 February 2017

Peran Baru

Setelah menikah, saya dan suami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua. Kami ingin belajar mandiri dan berusaha untuk mengelola rumah tangga kami secara merdeka. Kami baru saja memulai perjalanan baru sebagai sepasang suami istri, membeli sebuah rumah belum bisa kami lakukan untuk saat ini. Sehingga satu-satunya pilihan adalah mengontrak rumah. Tidak mudah mencari kontrakan bagi pengantin baru. Kami sempat berpindah tempat selama 3 kali sebelum akhirnya menetap di sebuah rumah kontrakan yang cukup nyaman-setidaknya bagi kami. Kontrakan kami terdiri atas beberapa ruang: ruang tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan tempat jemuran di bagian belakang. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bisa menemukan rumah kontrakan yang nyaman dan harga cukup terjangkau.

Saya masih mengajar di sebuah sekolah swasta setelah menikah. Namun beberapa bulan kemudian saya memutuskan untuk resign karena jarak antara rumah dan sekolah tempat saya mengajar cukup jauh, 25 km. Lelah sekali rasanya harus menempuh jarak sejauh itu setiap hari dengan keadaan lalu lintas Jakarta-Tangsel yang terkadang menguras emosi.

Saya pikir, menjadi seorang ibu rumah tangga berarti memiliki banyak waktu luang. Tidak seperti ketika saya mengajar yang semua waktunya sudah dijadwal dengan agenda yang konstan.

Pada awalnya, saya memang benar-benar menikmati peran baru saya. Jika dulu saya harus pak-pik-puk sebelum subuh dan berangkat jam 5 pagi agar terhindar dari kemacetan Jakarta, sekarang saya bahkan bisa melakukan jalan pagi bersama suami dan menikmati sarapan berdua.

Fase mengasyikkan ini tak berlangsung lama. Seiring berjalannya waktu, rasa bosan mulai menghinggapi saya. Saya juga merasa kesepian jika suami bekerja. Rutinitas yang hanya berkutat seputar menyiapkan sarapan, mencuci piring, mencuci-menjemur pakaian, beberes rumah, dan memasak membuat saya merasa tak memiliki kebebasan.

Saya sempat meminta dibelikan TV sama suami agar saya punya hiburan, namun dia menolaknya.
"TV lebih banyak membawa mudharat” pungkasnya.
Meski tidak membelikan TV, suami dengan sukarela membelikan saya radio.
“Bisa dipasang flashdisk nih. Dengerin murrotal atau ceramah aja ya” pesannya.
Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Radio belum mampu mengusir rasa bosan dan kesepian yang semakin sering saya alami. Akhirnya suatu hari saya memberanikan diri mengutarakan isi hati saya kepada suami tentang betapa bosannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Saya ingin mengajar atau bekerja lagi. Suami mendengarkan keluh kesah saya kemudian ia mengingatkan:
"Seorang wanita itu bisa bahagia dengan perannya. Sebagai apapun itu. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani peran kita sebaik-baiknya dengan rasa ikhlas. Lillahi Ta’ala."

Masya Allah, saya merasa disentil dengan penjelasan suami saya. Saya pun bercermin, mungkin selama ini saya belum ikhlas dalam menjalani peran saya. Astaghfirullah.
Bersyukur sekali memiliki pasangan yang bisa mengingatkan di kala sedang khilaf. Alhamdulillah.

Saya mulai memahami apa yang telah suami katakan. Toh menjadi ibu rumah tangga dan berhenti bekerja adalah pilihan saya pribadi. Suami tak pernah melarang saya untuk berkarir ataupun mengejar mimpi. Saya menyadari bahwa tugas saya saat ini adalah berusaha sebaik-baiknya menjalani peran dengan penuh keikhlasan.

Lalu, bagaimana mengatasi rasa bosan dan kesepian?

Mengusir kebosanan ternyata sangat mudah. Yang diperlukan hanya kemauan dan semangat positif. Kebosanan dan kejenuhan itu akan hadir jika kita melakukan aktivitas yang monoton atau itu-itu saja. Jadi saya mencoba untuk memberikan variasi pada rutinitas harian saya. Membaca buku, mencoba resep baru, membuat dekorasi rumah, senam/olahraga, menulis blog, mengikuti kajian dan seminar, berkebun, ke salon, belajar menjahit, dan maaasih banyak lagi kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa bosan.

Menghadapi kesepian juga sama mudahnya. Mengaji, bersilaturahim ke rumah orang tua/mertua, dan bersosialisasi dengan ibu rumah tangga lainnya adalah beberapa cara saya dalam menghalau rasa sepi. Saya juga ingat nasihat kawan saya, Sarah:

"Jika Allah di hati, maka kita tak akan pernah merasa sepi. Karena yakinlah, Allah selalu menemani."
Masya Allah, memiliki orang-orang baik yang tak henti mengingatkan untuk selalu menjadi versi terbaik sebisa kita adalah karunia yang luar biasa. 

Bahagia rasanya bisa menikmati peran sebagai ibu rumah tangga. Menjadi seorang istri yang melayani suami dengan sepenuh hati dan menjalani hidup dengan tujuan mencari ridho Ilahi.

Bismillah..

Ibu rumah tangga adalah peran mulia. Insya Allah jadi ladang pahala.
 

Allah bersama kami

Usia pernikahan saya dan suami sudah hampir setahun. Sungguh dahsyat skenario Allah. Tak pernah menyangka bahwa saya akan menikah dengan orang baru melalui proses ta'aruf. Waktu yang diperlukan dari proses pertemuan pertama hingga akhirnya menikah relatif singkat, kurang lebih 6 bulan.
Oktober 2015 pertama kali kami bertemu.
Januari 2016 proses lamaran. 
Dan Maret 2016 kami menikah.
Kini kami sedang menunggu kehadiran anak pertama.
Alhamdulillah, selalu ada hikmah yang terselip dari setiap kejadian. Saya yakin, ketika Allah meridhoi, maka semuanya akan dimudahkan dan dilancarkan. Segala puji hanya bagi Allah, Maha Perencana Terbaik. 

Menjalani pernikahan selama hampir setahun membuat kami saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Kami juga sama-sama belajar dalam membina sebuah rumah tangga. Benarlah adanya, proses mengenal dan mencintai pasangan itu membutuhkan waktu seumur hidup. Memang perjalanan ini tidak selalu mulus. Namun kami yakin dan percaya: Allah bersama kami.

Semoga keyakinan dan kepercayaan ini tak akan pudar hingga kami dipertemukan lagi di Jannah-Nya kelak. Aamiin.