Sunday, 25 March 2018

IMPETIGO BULOSA

Di satu pagi pada bulan Februari, saya menemukan lingkaran merah pada kulit telinga Maiza. Awalnya saya tak risau, karena saya pikir itu hanya bekas gigitan nyamuk atau semut. Namun betapa terkejutnya saya ketika keesokan harinya, lingkaran merah itu berubah menjadi lingkaran menyeramkan-seperti luka kulit bekas sundutan rokok. Saya menanyakan tentang penanganan luka ini pada kerabat saya yang berprofesi sebagai perawat. Dan ia menyarankan untuk memberikan salep Hydrocortison. Saya pun segera melakukan saran tersebut. Namun karena lingkaran itu  tak kunjung menghilang dan malah semakin meluas ke bagian kulit yang lain, saya pun memutuskan untuk membawa Maiza ke Puskesmas. Disana saya mendapatkan dua buah salep yaitu Betametason dan Gentalex. Saya mengoleskan salep tersebut secara rutin pada Maiza setiap sehabis mandi  dan menunggu reaksi obat tersebut hingga dua hari, sayangnya tetap belum ada perbaikan. Sedih sekali melihat Maiza tak nyaman, ia selalu merasa gatal dan seringkali terlihat menggaruk2 luka tersebut. Akhirnya saya meminta suami untuk memeriksakan buah hati kami ke dokter spesialis kulit terdekat, mungkin memang harus ke ahlinya, pikir saya. Saya datang ke klinik Dr. Vitalis, Sp. KK yang lokasinya cukup terjangkau dari rumah kami. Disana dokter melihat dan langsung mengenal lingkaran-lingkaran merah yang saya tunjukkan. Ia hanya berkata "Ini akibat bakteri, jadi saya akan beri salep dan antibiotik". Alhamdulillaah, setelah mengkonsumsi antibiotik dan mengoleskan salep racikan dokter kulit tersebut, lingkaran-lingkaran merah pada kulit Maiza berangsur kering dan lama kelamaan memghilang.

Setelah Maiza pulih, saya baru mengetahui nama penyakit kulit tersebut adalah Impetigo Bulosa
"Impetigo bulosa adalah  infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri, berupa lepuh atau bercak luka terbuka yang kemudian menimbulkan kerak berwarna kuning atau cokelat. Penyebab utama impetigo adalah bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes."

Saya ingat sekali saat itu Maiza memang sedang aktifnya merangkak dan senang memasukkan benda apa saja ke dalam mulut. Bisa saja ia terkena bakteri karena lantai atau benda yang ia masukkan ke dalam mulut kurang hygienis. Hal ini menjadi pelajaran bagi saya untuk selalu menjaga kebersihan tempat dan benda yang sering dimainkan anak; selain itu membiasakan cuci tangan atau mengelap tangan dengan tisu basah juga menjadi langkah efektif untuk mencegah terkena penyakit Impetigo Bulosa ini.
Salam sehat-semangat!  

Relaktasi Berhasil

Seperti yang saya tulis pada postingan sebelumnya, Maiza dari usia 4 bulan 2 minggu sudah mengkonsumsi susu formula. Alasan mengapa saya tidak menyusui Maiza bisa dibaca disini. Hingga 8 bulan, Maiza diberikan ASI dan susu formula untuk kebutuhan cairan tubuhnya-selain air putih tentu saja (karena ia sudah MPASI). Saya dan suami paham betul terhadap kebaikan ASI bagi bayi. Oleh karena itu saya berusaha untuk melakukan relaktasi dan suami sangat mendukung upaya saya ini. 
"Relaktasi adalah praktik menyusui kembali bayi bunda secara langsung ke payudara setelah kurun waktu tertentu (dapat beberapa hari, beberapa minggu, atau beberapa bulan). Tidak menyusui atau menyusui secara parsial (mencampur pemberian ASI dengan susu formula atau makanan/minuman selain ASI) dapat terjadi karena beberapa alasan tertentu, diantaranya, ibu harus dirawat karena sakit, ibu sibuk bekerja, ASI mengering, atau ibu mengalami sakit yang sementara waktu dilarang memberikan pada bayinya, kesulitan untuk menyusui karena mendapat tekanan dari lingkungan, minimnya pengetahuan orangtua tentang ASI, hingga berbagai mitos tidak benar seputar menyusui."
Pada awalnya saya sempat frustasi karena proses ini tidak mudah. Memberhentikan pemberian susu formula disaat produksi ASI saya sedikit ternyata menimbulkan masalah baru. Maiza menangis setiap menyusu, tampaknya ia sangat kesal karena setiap menyusu hanya mendapatkan sedikit, tidak seperti ketika ia diberikan susu formula dari dot-deras. 

Maka solusi bagi saya untuk berhenti memberikan susu formula adalah dengan menaikkan produksi ASI agar Maiza tak lagi menangis ketika menyusu. 
Meski ragu akan keberhasilan relaktasi, saya tak mau menyerah. Segala cara saya jalani untuk meningkatkan produksi ASI. Mengkonsumsi sayuran pelancar asi, pil herbal, susu kedelai, kacang-kacangan, buah-buahan; hingga meningkatkan frekuensi memompa ASI saya lakukan dalam proses relaktasi ini. Setiap memompa saya sedih sekali melihat kuantitas ASI saya yang hanya berkisar 5-10ml per sesi. Namun kuncinya memang tak boleh menyerah. Usaha terus. Selain memompa, saya juga menyusui Maiza secara langsung sesering mungkin. Ini dipercaya dapat menstimulasi tubuh untuk meningkatkan produksi ASI. Dan memang terbukti. Saya menyusui Maiza ketika ia dalam keadaan tidak lapar. Ini adalah siasat saya agar tetap bisa menyusui langsung tanpa membuat Maiza menangis.

Alhamdulillah, setelah kurang lebih 4 bulan menjalani proses relaktasi, kini buah hati saya telah kembali mengkonsumsi ASI sepenuhnya tanpa tambahan susu formula. It's not easy, but doesn't mean impossible. Semua ada tahap dan prosesnya. Memberhentikan pemberian susu formula tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, saya pun melakukannya secara perlahan. Dari hari ke hari saya mengurangi kuantitas susu formula, misalnya dari 150ml per hari jadi 125 ml. Kemudian diturunkan lagi 10 ml, dan menggantinya dengan menyusui langsung hingga anak benar-benar bisa lepas dari susu formula. 

Bagi ibu-ibu lain yang ingin dan sedang melakukan relaktasi, saya kirimkan salam senyum dan semangat. Insya Allah kalian pun bisa berhasil. Yang penting usaha, urusan hasil hanya milik Allah.
Do the best, and let Allah do the rest :)    

Monday, 11 December 2017

Breastfeeding Journey

 Perjalanan menyusui Maiza, buah hati pertama saya tidaklah mulus. Tentu para pejuang ASI paham betul pada apa yang mereka perjuangkan dan apa saja tantangannya. Drama menyusui seperti pelekatan yang tak tepat, mastitis, ASI seret, PD bengkak, nipple lecet, tongue-tie, lip-tie, dan masih banyak lagi episode drama ibu menyusui yang saya alami. Memberikan ASI secara eksklusif bukan semata-mata agar anak sehat atau memiliki berat badan ideal, namun lebih dari itu. Sebagai ummat Muslim yang beriman pada Allah dan Al-Qur'an, saya berusaha untuk menjalankan perintah Allah yang tertulis dalam Q.S.Al Baqarah ayat 233 yang memiliki terjemahan sbb:
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan"
 Alhamdulillah selama 4 bulan pertama saya berhasil memberikan ASI eksklusif pada Maiza. Qodarullah, saya jatuh sakit saat Maiza berusia 4 bulan 2 minggu. Karena sakitnya tak kunjung sembuh, saya dan suami memutuskan untuk ke dokter. Disana saya diberikan obat yang mempengaruhi kegiatan menyusui saya. Dokter menyarankan saya untuk istirahat menyusui dulu selama saya mengkonsumsi obat yang diberikan dokter karena kandungan ASI akan terkontaminasi obat yang saya konsumsi. "Jika ibunya tak kunjung sembuh, maka akan lebih lama lagi ibu tak bisa menyusui" begitu penjelasan dokter. Sejujurnya saya sedih sekali mendengarnya, mengingat saya tak punya stok ASIP (padahal dalam keadaan seperti ini banyaknya ASIP) membantu berlangsungnya proses ASI eksklusif dan saat itu saya pun tak tau harus kemana mencari donor ASI bagi Maiza. Pada akhirnya, dengan berat hati kami memberikan Maiza susu formula sebagai asupannya. 

Dokter sebetulnya sudah mengingatkan agar saya selalu rajin pumping saat mengkonsumsi obat meskipun hasil pumping tetap harus dibuang. Ini dilakukan agar PD saya tetap memproduksi ASI dengan jumlah banyak. Sayangnya saya kurang disiplin sehingga ketika saya telah pulih dan siap menyusui kembali, produksi ASI saya telah menurun. Akibatnya, Maiza selalu rewel dan menangis saat menyusu karena ia masih merasa lapar. Menyesal sekali rasanya karena tidak rutin pumping saat sakit, diperlukan usaha ekstra agar Maiza mau menyusu kembali dan berhenti mengkonsumsi susu formula.


Saya menolak menyerah. Keinginan saya untuk memberikan ASI lagi pada Maiza masih besar. Saya pun melakukan ikhtiar selanjutnya, melakukan pijat laktasi. Tak cuma pijat, pada proses ini saya juga dimotivasi untuk terus optimis bahwa Maiza bisa full ASI lagi tanpa susu formula. Saat ini Maiza tetap mendapatkan ASI namun dibantu juga dengan susu formula karena berat badannya sempat turun saat sakit. Proses mengembalikan Maiza untuk full ASI tanpa bantuan susu formula memang tidak mudah, tugas saya sekarang adalah meningkatkan produksi ASI saya agar tak perlu lagi memberikan asupan lain pada Maiza. Menyusui sesering mungkin, rutin pumping, mengkonsumsi makanan pelancar ASI, dan pijat laktasi masih saya jalani hingga kini demi memberikan yang terbaik pada si buah hati.



Selamat mengASIhi wahai para pejuang ASI.. bagi yang tak bisa memberikan ASI, tak perlu berkecil hati karena sebagai manusia tentu kita memiliki keterbatasan diri.. tetap berikan yang terbaik bagi si buah hati dan yakinlah bahwa kasih sayang Allah selalu menyertai :) 

Wednesday, 19 July 2017

Being a new mom

Melahirkan adalah momentum dimana seorang wanita mendapatkan peran baru-sebagai ibu. Hadirnya si buah hati menjadi tanda bahwa perjalanan penuh tantangan sebagai orang tua segera dimulai.

Adjusting with new rhythm of life is a huge challenge for me as a new mom. Jika sebelum memiliki anak saya masih sering mementingkan diri sendiri, kini saya bisa lebih berlapang dada untuk memprioritaskan kebutuhan anak. Kurangnya jam tidur, meningkatnya kebutuhan finansial, dan langkanya waktu senggang adalah hal-hal umum yang dialami pasutri setelah memiliki anak. Kami pun mengalaminya. Namun kami belajar untuk melihat itu semua sebagai ibadah meski terkadang keikhlasan kami diuji ketika lelah dan letih menghampiri. Percayalah, rasa lelah dan letih seakan sirna ketika melihat buah hati tersenyum ceria ataupun lelap dalam tidurnya.

Setelah sebulan lebih menjalani hari sebagai seorang ibu, saya ingin mengatakan bahwa menjadi seorang ibu ternyata tidak mudah. Honestly, these first few months of having new born are difficult enough for me. Proses adaptasi menjadi seorang istri sekaligus ibu benar-benar menguras tenaga dan menguji kestabilan emosi. Suami saya menjadi saksi betapa rapuhnya saya di bulan pertama menjalani peran baru sebagai ibu. Rasanya ingin mengibarkan bendera putih saat raga mengecap jenuh dan lelah menjalani peran baru ini. Saya beruntung memiliki suami dan keluarga yang tak henti memberikan support agar saya penuh kembali. Mereka tak ragu memberikan bantuan ketika saya membutuhkan. Semoga berjuta kebaikan kembali pada mereka.

Proses saya menjadi seorang ibu masih berlangsung hingga kini. Tantangan dan ilmu baru saya tangkap setiap hari. Salam hangat untuk ibu-ibu baru dimana pun kalian berada, tetaplah bersemangat dan penuh energi 😊

Friday, 7 July 2017

Persalinan Anak Pertama

Saat kehamilan memasuki usia 40 minggu, saya mulai tak sabar dan sedikit khawatir. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran saya.
Mengapa saya belum merasakan kontraksi ya.. Kok si baby belum mau keluar ya.. Apakah saya bisa melahirkan normal.. dsb dsb..
Akhirnya saya mulai browsing bagaimana memancing kontraksi secara alami. Dari hasil silaturahim ke beberapa web, saya menyimpulkan bahwa cara memancing kontraksi secara alami bisa dengan mengkonsumsi kiwi, banyak jalan, senam prenatal, mengkonsumsi makanan pedas, dll.

Saya mencoba untuk melakukan hal-hal yang disarankan web tersebut. Suami juga menunjukkan supportnya, ia mengantar saya membeli kiwi, menemani saya jalan pagi dan sore, memotivasi saya untuk melakukan senam prenatal, dan mencari info tentang kehamilan post due date.

Saya dan suami memiliki keinginan yang sama yaitu proses lahiran normal. Maka ketika ada seorang dokter yang menyarankan untuk melakukan caesarean section (SC) di minggu ke 40, kami tidak menghiraukannya.

Bukan tanpa alasan kami tetap keukeuh memilih lahiran normal, pasalnya kehamilan saya tidak ada masalah apapun hingga minggu ke 40. Air ketuban masih cukup, posisi plasenta baik, detak jantung janin normal, tekanan darah saya pun masih ok. Jadi kami berpositive thinking. Bismillah, saya bisa melahirkan normal.

Allah Maha Mengetahui, Dia akan memberikan waktu yang tepat. Si jabang bayi pun memiliki waktunya sendiri, ia akan keluar saat ia ready.

Saya menanamkan afirmasi ini ketika perasaan tak sabar dan khawatir menghampiri "Slow down, calm down, don't worry, don't hurry, trust the process".
Meskipun kami memilih untuk menunggu hingga waktunya tiba, kami tidak berhenti untuk ikhtiar memancing kontraksi. Tetap do the best and let Allah do the rest. 

40 minggu 1 hari
Pagi hari suami mengajak ke pasar untuk membeli buah, tentu saja dengan berjalan kaki. Siangnya kami membeli kiwi. Saya mengkonsumsi 2 buah kiwi dalam sehari sebagai upaya untuk memancing gelombang cinta. Sorenya, kami membeli takjil untuk berbuka. Lagi-lagi dengan berjalan kaki. Sepulang dari membeli takjil, saya merasa perut mulai cenat-cenut. Malamnya saya masih bisa shalat tarawih berjamaah di mesjid meski saat shalat gelombang cinta mulai menyapa.

40 minggu 2 hari
Suami mengajak jalan pagi dan sorenya kami berjalan mengelilingi taman kembang sepatu sebanyak lebih dari 10 kali. Pulangnya saya kelelahan sehingga saya absen tarawih di malam hari karena merasa gelombang cinta mulai sedikit maknyuuuus.

Mulai dari jam 11 malam, saya gelisah dan belum bisa tidur. Gelombang cinta datang dan pergi secara teratur dengan rasa sakit yang intens. Saat itu saya masih bisa menahannya, jadi saya hanya berusaha untuk tidur.

40 minggu 3 hari
Puncak gelombang cinta datang jam 3 pagi yang membuat saya menangis. The pain is really unbearable. Saya membangunkan suami, ia akhirnya menelepon ummi dan bidan langganan kami.

Ummi datang ke rumah kami setelah ditelepon suami saya. Ketika ummi tau bahwa saya sudah mengeluarkan lendir bercampur darah, ia menyuruh kami untuk segera ke bidan karena itu adalah tanda bahwa proses lahiran sudah dekat.

Setibanya di bidan, saya langsung melakukan pemeriksaan dalam. Ternyata sudah pembukaan 7. Bidan menyuruh saya berbaring ke kiri sambil menunggu pembukaan bertambah. Suami dan ummi menanyakan kapan proses lahiran bisa dimulai jika sekarang sudah pembukaan 7, kemudian bidan mengatakan bahwa kemungkinan lahiran jam 8 pagi.
Shubuh pun tiba, suami izin untuk shalat di mesjid karena ia pikir masih banyak waktu sebelum proses lahiran.

Jam 5 pagi saya ingin buang air kecil, ketika saya menuju kamar mandi, saya merasa ada letusan dalam perut saya yang disusul keluarnya cairan bening bercampur darah. Ternyata ketuban saya pecah. Saya disuruh berbaring kembali sama bidan dan diambilkan pispot untuk buang air kecil. Entah mengapa keingingan saya untuk buang air kecil hilang, berganti dengan keinginan untuk buang air besar. Keinginan ini sudah tak bisa ditahan, jadi saya langsung mengejan sekuat tenaga di atas ranjang bersalin. Ternyata yang saya rasakan ini bukan keinginan untuk buang air besar, ini adalah dorongan dari dalam yang menandakan bayi sudah ingin keluar.

Bidan segera stand by di depan saya. Saya mengejan lagi. Bidan mengatakan bahwa rambut bayi sudah keliatan, disaat yang sama suami baru tiba di ruang bersalin dari sholat shubuh. Saya masih berusaha mengejan, kali ini luar biasa dahsyat rasanya karena proses pengeluaran kepala bayi. Selanjutnya saya mengejan sambil dibantu bidan yang mendorong perut atas saya. Alhamdulillah, ketika pecah tangisan bayi, saya pun mengetahui bahwa proses lahiran berhasil. Tak berapa lama plasenta keluar. Bidan memberikan bayi saya untuk segera IMD. Masya Allah, that was magical feeling. Seeing and touching your child for the first time after all of the struggle you faced. Can't thank Allah enough.

Proses selanjutnya adalah jahit-menjahit. That was the most painful moment for me. Sakitnya luar biasa. Serius. Bagi saya ini lebih menyakitkan daripada kontraksi dan melahirkan. Bahkan bidan sampai meminta ummi menemani saat proses ini karena saya tak tahan sakitnya. Sekarang saya mengetahui mengapa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Perjuangan demi perjuangan yang ia lewati dari masa hamil, melahirkan, menyusui, bahkan hingga anak-anaknya besar nanti-tidak bisa dianggap remeh. Perjalanan perjuangan seorang ibu layak untuk pahala yang berlimpah dan tentu saja surga.

Semoga Allah selalu merahmati dan menuntun saya menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Tak lupa saya panjatkan syukur sebesar-besarnya atas nikmat Allah yang memberikan saya kemudahan dan kelancaran saat proses persalinan kemarin. Alhamdulillah

Saturday, 25 February 2017

Peran Baru

Setelah menikah, saya dan suami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua. Kami ingin belajar mandiri dan berusaha untuk mengelola rumah tangga kami secara merdeka. Kami baru saja memulai perjalanan baru sebagai sepasang suami istri, membeli sebuah rumah belum bisa kami lakukan untuk saat ini. Sehingga satu-satunya pilihan adalah mengontrak rumah. Tidak mudah mencari kontrakan bagi pengantin baru. Kami sempat berpindah tempat selama 3 kali sebelum akhirnya menetap di sebuah rumah kontrakan yang cukup nyaman-setidaknya bagi kami. Kontrakan kami terdiri atas beberapa ruang: ruang tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan tempat jemuran di bagian belakang. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bisa menemukan rumah kontrakan yang nyaman dan harga cukup terjangkau.

Saya masih mengajar di sebuah sekolah swasta setelah menikah. Namun beberapa bulan kemudian saya memutuskan untuk resign karena jarak antara rumah dan sekolah tempat saya mengajar cukup jauh, 25 km. Lelah sekali rasanya harus menempuh jarak sejauh itu setiap hari dengan keadaan lalu lintas Jakarta-Tangsel yang terkadang menguras emosi.

Saya pikir, menjadi seorang ibu rumah tangga berarti memiliki banyak waktu luang. Tidak seperti ketika saya mengajar yang semua waktunya sudah dijadwal dengan agenda yang konstan.

Pada awalnya, saya memang benar-benar menikmati peran baru saya. Jika dulu saya harus pak-pik-puk sebelum subuh dan berangkat jam 5 pagi agar terhindar dari kemacetan Jakarta, sekarang saya bahkan bisa melakukan jalan pagi bersama suami dan menikmati sarapan berdua.

Fase mengasyikkan ini tak berlangsung lama. Seiring berjalannya waktu, rasa bosan mulai menghinggapi saya. Saya juga merasa kesepian jika suami bekerja. Rutinitas yang hanya berkutat seputar menyiapkan sarapan, mencuci piring, mencuci-menjemur pakaian, beberes rumah, dan memasak membuat saya merasa tak memiliki kebebasan.

Saya sempat meminta dibelikan TV sama suami agar saya punya hiburan, namun dia menolaknya.
"TV lebih banyak membawa mudharat” pungkasnya.
Meski tidak membelikan TV, suami dengan sukarela membelikan saya radio.
“Bisa dipasang flashdisk nih. Dengerin murrotal atau ceramah aja ya” pesannya.
Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Radio belum mampu mengusir rasa bosan dan kesepian yang semakin sering saya alami. Akhirnya suatu hari saya memberanikan diri mengutarakan isi hati saya kepada suami tentang betapa bosannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Saya ingin mengajar atau bekerja lagi. Suami mendengarkan keluh kesah saya kemudian ia mengingatkan:
"Seorang wanita itu bisa bahagia dengan perannya. Sebagai apapun itu. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani peran kita sebaik-baiknya dengan rasa ikhlas. Lillahi Ta’ala."

Masya Allah, saya merasa disentil dengan penjelasan suami saya. Saya pun bercermin, mungkin selama ini saya belum ikhlas dalam menjalani peran saya. Astaghfirullah.
Bersyukur sekali memiliki pasangan yang bisa mengingatkan di kala sedang khilaf. Alhamdulillah.

Saya mulai memahami apa yang telah suami katakan. Toh menjadi ibu rumah tangga dan berhenti bekerja adalah pilihan saya pribadi. Suami tak pernah melarang saya untuk berkarir ataupun mengejar mimpi. Saya menyadari bahwa tugas saya saat ini adalah berusaha sebaik-baiknya menjalani peran dengan penuh keikhlasan.

Lalu, bagaimana mengatasi rasa bosan dan kesepian?

Mengusir kebosanan ternyata sangat mudah. Yang diperlukan hanya kemauan dan semangat positif. Kebosanan dan kejenuhan itu akan hadir jika kita melakukan aktivitas yang monoton atau itu-itu saja. Jadi saya mencoba untuk memberikan variasi pada rutinitas harian saya. Membaca buku, mencoba resep baru, membuat dekorasi rumah, senam/olahraga, menulis blog, mengikuti kajian dan seminar, berkebun, ke salon, belajar menjahit, dan maaasih banyak lagi kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa bosan.

Menghadapi kesepian juga sama mudahnya. Mengaji, bersilaturahim ke rumah orang tua/mertua, dan bersosialisasi dengan ibu rumah tangga lainnya adalah beberapa cara saya dalam menghalau rasa sepi. Saya juga ingat nasihat kawan saya, Sarah:

"Jika Allah di hati, maka kita tak akan pernah merasa sepi. Karena yakinlah, Allah selalu menemani."
Masya Allah, memiliki orang-orang baik yang tak henti mengingatkan untuk selalu menjadi versi terbaik sebisa kita adalah karunia yang luar biasa. 

Bahagia rasanya bisa menikmati peran sebagai ibu rumah tangga. Menjadi seorang istri yang melayani suami dengan sepenuh hati dan menjalani hidup dengan tujuan mencari ridho Ilahi.

Bismillah..

Ibu rumah tangga adalah peran mulia. Insya Allah jadi ladang pahala.
 

Allah bersama kami

Usia pernikahan saya dan suami sudah hampir setahun. Sungguh dahsyat skenario Allah. Tak pernah menyangka bahwa saya akan menikah dengan orang baru melalui proses ta'aruf. Waktu yang diperlukan dari proses pertemuan pertama hingga akhirnya menikah relatif singkat, kurang lebih 6 bulan.
Oktober 2015 pertama kali kami bertemu.
Januari 2016 proses lamaran. 
Dan Maret 2016 kami menikah.
Kini kami sedang menunggu kehadiran anak pertama.
Alhamdulillah, selalu ada hikmah yang terselip dari setiap kejadian. Saya yakin, ketika Allah meridhoi, maka semuanya akan dimudahkan dan dilancarkan. Segala puji hanya bagi Allah, Maha Perencana Terbaik. 

Menjalani pernikahan selama hampir setahun membuat kami saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Kami juga sama-sama belajar dalam membina sebuah rumah tangga. Benarlah adanya, proses mengenal dan mencintai pasangan itu membutuhkan waktu seumur hidup. Memang perjalanan ini tidak selalu mulus. Namun kami yakin dan percaya: Allah bersama kami.

Semoga keyakinan dan kepercayaan ini tak akan pudar hingga kami dipertemukan lagi di Jannah-Nya kelak. Aamiin.